Sebab penasaran, jadi ingin
berkicau ttg tentang Jamaah PKS. Boleh kan beropini
Terutama dengan ujian yang tengah
landa jamaah ini. Sepertinya jamaah ini sedang di tubir jurang. Salah sedikit
bisa “hilang”. Benarkah?
Menyimak ghazwul opini, eh perang
opini yg terjadi, sya bisa lihat serangan itu memang ada. Tujuannya hilang elektabilitas.
Tak dipilih lg
Ya itu memang permainannya. Akan
terus berputar di situ saja. Nggak akan keluar. Namanya juga politik.
Jadi, bila ada serangan
opini--> elektabilitas hancur--> tak dipilih --> tak punya kekuatan
politik --> Kalah perang.
Kalah perang itu berupa tak punya
kursi di dewan -->tak bisa voting. Tak bisa buat aturan. Tak bisa awasi
pemerintah
Bisa juga tak punya penguasa
daerah hingga presiden --> tak bisa memerintah. Tak bisa wujudkan gagasan
Kalau dulu, lewat perang fisik.
Menang perang--> sah duduki wilayah dan memerintah. Sama dengan menang
pileg/pilkada. Beda bentuk doang
Nah, kita bahas ghazwul opininya
ya. Kalau dulu serangan itu ditujukan untuk semua. Ya kader ya pemimpin.
Sekarang serangan itu lebih
ditujukan kepada pemimpin. Sedangkan kader dipuji-puji. Episode ini saya
katakan dgn #BelahBambuPKS
Kenapa #BelahbambuPKS ? Karena kalau dengan semuanya
diserang ternyata tak mempan.
Msh ingat dgn Anismisme? virus
NII? Ini salah 1cara utk serang pemimpin. Cara lainnya biasanya ttg gaya hidup
para elitnya #BelahBambuPKS
Kalau ke kader, mereka kritik
sikap taklid-butanya. Juga masalah keilmuanya yang hanya andalkan rasmul bayan
di liqo #BelahBambuPKS
Waktu mmbuktikan, upaya ini
gagal. Kader ttp solid. Trust thd pemimpin tak berkurang. Justru para
pengkritik capek sendiri #BelahBambuPKS
Walau dibilang sama-sekali gagal
juga tidak. Karena ada korbannya. Beberapa kader mengatakan “goodbye”. #BelahBambuPKS
Sekarang sepertinya sudah muncul
upaya utk pecah jadi dua kubu. Pemimpin di satu sisi. Kader di sisi lain #BelahBambuPKS
Yang satu dikritik habis2an: Elit
tak tahu diri, khianat, korup, bermewah-mewah, munafik, dlsb #BelahBambuPKS
Sisi yg satunya dibilang kader
PKS itu baik2 saja. Merekalah yg berjuang di lapangan selama ini. PKS praktis
tinggal mengandalkan kadernya
Tanpa dukungan kader, maka PKS
akan habis. Punah.....the End....! #BelahBambuPKS
Lebih menusuk saat opini muncul
justru dari kalangan Syaikh. Rujukan kader dalam syariah. Yang statementnya
punya daya. Krn biasa pake dalil
Salah satunya adalah kiasan
“Ternyata Penjahatnya Justru Atasannya Sendiri”. Mereka rata-rata bilang kalau
kader PKS itu baik-baik saja koq
Serangan opini #BelahBambuPKS ini lebih berbahaya dibanding yang
dulu. Karena bisa menumbuhkan ujub di hati kader. Harus waspada.
Opini ini bs tumbuhkan perasaan
berjasa. Bahwa dakwah sudah tegak dgn perannya selama ini. Tanpa kontribusi
kader, PKS is “nothing”
Apalagi kalau sedang situasi
begini. Saat mau pemilu dan PKS terancam elektabilitasnya. Maka tumpuan tinggal
pada soliditas kader.
Kalau sudah muncul perasaan ini,
maka pintu bagi syaitan sudah terbuka. Syaitanpun siap goreng-goreng #BelahBambuPKS
Apakah upaya #BelahBambuPKS ini akan berhasil? Jawabannya
mungkin kelak di 2014
Tp sepertinya tidak perlu
menunggu selama itu. Jawaban ada di hati kader. Karena kemenangan itu berawal
dr dlm diri.
Apakah memang seorang kader perlu
merasa berkontribusi kepada jamaah ini? Merasa punya peran? Merasa jadi
penopang dakwah ini?
Ah, ternyata mereka memang belum
tahu apa sebenarnya suara hati kader PKS. Apa yg para kader itu lakukan dan
rasakan dalam perjuangkannya?
Apakah kader berjuang demi
Elektabilitas? Karir politik? Peluang ekonomi? Popularitas? Jabatan publik?
Atau apa?
Saya kira ini yang tidak
difahami. Kader percaya dibilang cinta buta. Menikmati dakwah dibilang dicuci
otak. Taat dibilang taqlid buta.
Ini yg tak mrk tahu, dalam
diamnya, dalam amal dakwahnya, kader beramal lillahi ta’ala. Bukan karena
pemimpin. Bukan karena si A atau si B
Kader berdakwah karena berangkat
dari al fahmu, pemahaman dan al-ikhlash, kebersihan niat
Knp ttp taat wlw pemimpin mulai
brmewah2? Ah, sila bawa 10 Alphard, di mata Allah itu tak lebih selembar sayap
nyamuk. Kader tak akan silau
Walau pemimpin atau siapapun bermewah2
itu tak akan jadi suri tauladan bagi kader.
Tapi apa memang benar ada yg
begitu? Apakah di lingkaran pekanan tidak ada evaluasi? Rasa-rasanya koq kecil
peluangnya ya
Kalau memang ada kenyataannya,
yakinlah Allah kan bersihkan jamaah ini dengan caraNya. Toh sdh ada media yg
bak org kehausan klw bicara PKS
Sudah ada KPK juga. Masyarakat yg
cinta. Kader tak perlu genit. Hanya perlu saling nasihat
Dewan Syariah juga sudah
memberikan Tadzkiroh tuh. Peringatan buat semua. Agar terhindar dari fitnah.
Saya yakin semua kader kan follow-up-i
Lagipula tak mungkin banyak orang
kumpul tak ada gesekan. Apalagi kumpulan makhluk yg punya nafsu
Terus bagaimana kalau pemimpin
ternyata bersalah? Ah... dalam sholat saja saat imam buang angin, batal, segera
bisa diganti.
Kalau ada khilafan atau lupa, ada
mekanisme teguran dengan ucapan nan indah “subhanalah”
Di sinilah aspek komunikasi
pemimpin dan kader yang amat penting dijaga. Adakalanya lancar, kadang mampet.
Biasa itu mah
Kader hormat dan percaya pada
pemimpinnya adalah adab Islami, juga kebutuhan manusiawi dan organisasi.
Apalagi para senior adalah
pendahulu dakwah. Adanya kader di barisan dakwah salah satunya krn kontribusi
mereka. Ini tak bisa dipungkiri.
Kita semua yakin selama niatnya
adalah dakwah lillahi ta’ala, maka Allah adalah Panglima dan Penjaga.
Oh, ya ada LDKI ya? Ust Mashadi
ada di situ? Ust Syaiful Islam jg?. Alhamdulillah. Jadi ada sparing partner
‘tuk berpacu dalam kebaikan.
Karena sepertinya ada aktivitas
tarbiyahnya juga. Jadi semakin menarik saja dunia persilatan dakwah..END(@abualifah)


0 komentar:
Posting Komentar