KAIRO - Mohammed Mursi (61) terpilih sebagai Presiden Mesir
pengganti Presiden Husni Mubarak yang digulingkan dalam revolusi pada
awal tahun lalu, sesuai dengan keputusan Komisi Pemilihan Presiden yang
diumumkan Ketua Komisi, Farouk Soltan, pada Ahad (24/6).
Moursi, lahir di desa Adwah, Provinsi Syarqiyah, bagian timur Mesir, pada 20 Agustus 1951 dari keluarga petani sederhana.
Saat ini, doktor teknik lulusan Amerika Serikat itu mengetuai Partai
Kebebasan dan Keadilan atau Hizbul Hurriyah Wal Adalah, sayap politik
Ikhwanul Muslimin.
Mursi meraih doktor bidang teknik material pada University of
Southern California pada 1982, dan pernah menjadi dosen atau profesor
pembantu di universitas di AS itu pada 1982-1985.
Pada 1985-2010, Mursi mengetuai jurusan teknik material di Universitas Zakazik, Mesir, dan dosen teknik di Cairo University.
Sejak 1977, Mursi mulai aktif di Ikhwanul Muslimin dan berulang kali
masuk penjara, baik di masa Presiden Anwar Saddat (1970-1981) maupun di
era
Presiden Husni Mubarak (1981-2011) atas tuduhan melakukan gerakan bawah tanah untuk menggulingkan pemerintah.
Memang, sepanjang tiga rezim Mesir mulai dari Presiden Gamal Abdel
Nasser (1953-1970), berlanjut rezim Presiden Anwar Saddat (1970-1981)
hingga Presiden Mubarak (1981-2011), Ikhwanul Muslimin dinyatakan
sebagai organisasi terlarang.
Jabatan terakhir di Ikhwanul Muslimin, sebagai anggota (Irsyad) atau
dewan pimpinan tertinggi di jajaran organisasi berpengaruh tersebut.
Dalam pemilihan umum pada 2000, Mursi terpilih sebagai anggota
parlemen dan kemudian terpilih menjadi juru bicara kubu Ikhwanul
Muslimin di dewan legislatif itu. Mursi memiliki seorang istri dan
dikaruniai lima anak dan tiga cucu.
Ini merupakan yang pertama seorang pemimpin organisasi Islam mencapai
posisi tertinggi di negeri berjulukan "Negeri Seribu Menara" tersebut. REPUBLIKA
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)

0 komentar:
Posting Komentar