Orientasi politik PKS (Partai Keadilan
Sejahtera) sungguh menarik untuk diamati. Ajaran agama PKS yang
mengedepankan politik praktis sebagai jembatan untuk meraih kekuasaan
duniawi sungguh sangat menarik. Bahkan PKS sebagai parpol bermetamorfose
menjadikan diri mereka identik dengan partai dakwah agama PKS. Sungguh
hanya PKS yang mampu melakukan perbuatan tersebut. PPP dan bahkan PBB
pun tak mampu bermetamorfose menjadi sedemikian rupa. Apa yang membuat
PKS menjadi partai yang fenomenal seperti itu?
Pertama, para kader PKS tampil dengan
gaya kecerdasan tingkat tinggi. PKS menampilkan diri sebagai partai yang
paling tinggi derajat kepartaiannya. PKS bahkan ingin menunjukkan diri
sebagai partai yang hanya memiliki dan patut dimiliki oleh orang dengan
intelektual tinggi. Jika kebetulan kadar intelektualitasnya rendah, maka
para kader PKS dengan cepat akan menggerombol dan menunjukkan bahwa
mereka memiliki gelar akademik di depan dan di belakang nama mereka.
Suatu kehormatan bagi para kader PKS jika mereka mampu menunjukkan diri
mereka adalah para manusia yang memiliki gelar.
Kedua, para pentolan dan elite PKS
dipilih dari kalangan para cendikia dan ustadz yang derajat keimanan
terhadap agama PKS sudah sangat tinggi. Di dalam PKS telah tertanam
kaderisasi yang sangat cermat dimulai dari usroh sampai rohis di SMP dan
SMA pada saat ini. Bahkan untuk mencapai posisi sebagai pentolan dan
elite PKS, serangkaian posisi harus dilewati. Bahkan seorang Anis Matta
untuk mencapai posisi Presiden PKS dibutuhkan waktu 15 tahun - hal yang
memicu Anis Matta dan kelompoknya untuk melakukan konspirasi dengan
menjatuhkan ustadz maksum Luthfi Hasan Ishaaq dan ustadz Ahmad Fathanah
karena tidak sabar dan melihat LHI melompati dirinya.
Ketiga, PKS adalah organisasi parpol
yang menyatukan langkah politis dan agama menjadi satu. PKS mampu meramu
pemikiran tentang kesatuan politik dan agama, sebagaimana Hizbut Tahrir
Indonesia (HTI) yang memiliki pemahaman kekuasaan duniawi dalam bentuk
impian abadi absurd Khilafah, dalam kacah politik yang sangat elegan.
Elite PKS yang sangat hedonis tersebut mampu mendorong para kader untuk
memercayai omongan dan kampanye tentang PKS sebagai bagian dari dakwah
agama PKS. Bukan hanya itu para kader grass root PKS pun akan berjuang
sampai titik darah penghabisan untuk kejayaan PKS.
Keempat, para kader PKS memiliki
kesetiaan total alias kaffah. Para kader PKS memiliki pandangan
monofacet alias pandangan kacamata kuda buta. Semua kebenaran hanya akan
benar jika berasal dari instruksi para ustadz agama PKS. Bahkan kasus
ustadz Luthfi Hasan Ishaaq dan ustadz Ahmad Fathanah pun dianggap oleh
Anis Matta dan para kader sebagai bentuk konspirasi Yahudi dan internal
PKS. Kader dan elite PKS tidak percaya akan kesalahan LHI yang maksum
dan tak mungkin salah. Bahkan ketika keputusan pengadilan Tipikor
dijatuhkan para kader akan meyakini hal itu sebagai fitnah doang.
Pembuktian LHI-AF sebagai terhukum pun akan dipandang sebagai kedzoliman
terhadap perjuangan agama PKS.
Kelima, para kader dan pentolan PKS
memiliki banyak pendukung partai sebagai kader berupa anak, istri, cucu
dan mertua. Om, tante, keponakan, mertua, cicit yang sangat loyal yang
saling terkait satu sama lain akibat keyakinan yang spesial dan khusus
terkait konsep perkawinan monogami, poliandri dan poligami yang diyakini
secara indah dan meyakinkan. Khusus poligami PKS adalah tempat paling
subur bagi para pengikut ajaran poligami yang indah menawan hati jiwa
dan raga.
Dengan kelima pilar itu, tak
mengherankan jika PKS menjadi parpol paling fenomenal dan tak
membutuhkan para pemilih di luar kadernya. Banyak Pilkada yang diikuti
oleh calon dari PKS selalu memenangi Pilkada seperti di Jawa Barat,
Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Papua, Jawa Timur, Kota
Bandung dan semua kabupaten kota baik di Indonesia maupun di luar negeri
karena PKS satu-satunya partai politik yang mewakili kantor perwakilan
di luar negeri sebagai persiapan Khilafah mungkin. Itulah kenapa PKS
selalu menang dan menang dalam pilkada dan juga pemilu dan pilpres yang
bahkan jika tidak diikuti oleh capres dan cawapres PKS


0 komentar:
Posting Komentar