Beberapa waktu terakhir aku menyibukkan diri berkutat dengan internet, buku
dan film. Tak mau melewatkan banyak hal, ‘off’ dari aktivitas mengajar benar2 ku gunakan dengan baik..Dari pagi
hingga malam aku sibuk browsing artikel dan berita. Maklumlah, Aku
tinggal hampir di ujung Kalimantan, bukan di Ibukota propinsi. Sehingga akses
berita sangat lamban, Koran baru datang ke daerah kami setelah menjelang siang.
Sehingga Aku mensiasatinya dengan berlangganan Koran elektronik, selain akses
yang lebih cepat, Aku juga tak perlu repot mengeluarkan biaya berlangganan..langganan
kali ini gratiiiis dan tidak butuh biaya kecuali buat isi ulang modem per 14
hari :-)
Beberapa teman sms menanyakan kabarku yang kelihatannya hilang dari dunia
perfesbukan :’) hmm…kalaupun ada yang melihat Aku jarang aktif di FB
akhir-akhir ini, menurutku anggapan tersebut sebenarnya tidak cukup benar.
Justru akhir-akhir ini, Aku OL 'gila-gilaan'..jauh lebih sering dari biasanya
:) Hanya saja, akhir-akhir ini biasanya begitu login, melihat beranda dan
wall-ku sebentar, Aku langsung meluncur ke beberapa grup ‘intelektual’ku.
Melihat perkembangan diskusi gender, kepenulisan dan travel writing yang sedang
kuikuti, tentunya sambil browsing dan mengakses berita2 nasional.
Kebiasaan baru ini, membuatku happy sekaligus pusing. Happy karna serasa kembali
melihat dunia dengan ‘leluasa’.. tapi juga pusing lantaran terlalu banyak
informasi yang masuk tapi nggak ada tempat penyalurannya. bayangkan saja, pasca
QL sekitar jam 3an Aku sudah mulai mengakses Media Indonesia dan Suara Merdeka
ditambah beberapa Koran local. Paginya, Sambil beres2 rumah, menyiapkan sarapan
hingga makan siang, sesekali Aku memberi komentar di diskusi grup yang biasanya
semakin siang semakin seru. Tak lupa juga melancong ke bilik travelling
kompasiana buat menyegarkan fikiran, lumayan bisa keliling dunia gratisss ^^.
Setelah selesai mengerjakan semua pekerjaan dapur dan all the ribets
things-nya, Aku kembali focus nongkrongin laptop..kali ini menjelajah di Koran
tempo yang biasanya baru update sekitar jam 12 siang, disambung Jurnas
dan Sinar Harapan. Sesekali Aku juga melancong ke Banjarmasin Post, yah..
Sekedar ingin tau saja bagaimana kabar kota yang sudah seperti tanah kedua
bagiku ini. Ternyata lagi pada ngeributin masalah launching THM yang konon
katanya terbesar se-Asia tenggara. Semakin kontras saja kota ini..!
Merasa capek membaca di laptop, Aku beralih nongkrongin buku. Biasanya lebih
fleksibel. capek membaca buku Aku memutuskan nonton ulang
film2 lawas yang menurutku ‘seru dan keren’. Yah..minimal nggak buat bosan saat
ditonton berulang-ulang (maklum persediaan film juga sangat sangat terbatas) ..
daaan of course tak lupa sebelumnya membuat snack ringan untuk ngemil :D
Nah..Anehnya tanpa aku sadari selama 1 bulan terakhir ini semua yang aku
diskusikan, baca, dan saksikan bermuara pada satu pertanyaan central
tentang “Bagaimana seharusnya kaum perempuan berperan ditengah2 idealitas dan
realitas hari ini?” Pertanyaan ini bermula ketika tanpa sengaja Aku menarik
buku ‘Storycake for amazing moms’ dari tempatnya, membaca, berfikir
kemudian menimbang2 bagaimana jika Aku yang ada diposisi mereka. Rupanya,
semesta benar2 mendukung..tanpa sengaja beberapa artikel hasil browsing juga
berbicara tentang kiprah perempuan, semakin penasaran Aku memperdalamnya dengan
mencoba mencari jejak para perempuan di era 60an hingga sekarang. Selang
beberapa waktu setelahnya lagi-lagi tanpa ku sadari aku ikut nimbrung di
diskusi bertema gender yang digagas Mbak Ari Kurnia dan bapak Tabrani Yunis
(praktisi media Aceh), setelah beberapa hari sebelumnya seorang teman bernama
Hafid Algristian (seorang SEFTer asal Surabaya) yang ku kenal di group
kepenulisan melontarkan gagasan ‘Prodita = Program Studi Ibu Rumah Tangga’ yang
merupakan hasil dari kegalauannya akan realitas peran perempuan hari ini.
Bertolak dari semua itu, Aku mencoba melakukan komparasi dan kolaborasi cara
pandangku dengan realitas para Ibu di keseharian mereka. Apa yang mereka
sampaikan rasanya sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan betapa
dilematisnya pilihan2 yang harus mereka ambil hari ini. Jauh sebelum ini, Aku
seringkali miris ketika terburu2 mengantar pulang seorang rekan kerja untuk
menyusui bayinya sambil menyaksikan gurat ‘ketidaknyamanan’ diwajahnya karena
seringkali izin pulang. Jauh sebelum ini Aku juga sudah seringkali mendengar
‘keluhan’ rekan2 kerja yang mau tidak mau memilih susu sapi atau susu formula
sebagai pengganti ASI bagi bayinya. Atau tentang anak2 yang baru bisa mereka
temui pada sore hari sepulang kerja.. meskipun belum mengalaminya, Aku bisa
merasakan bagaimana sedihnya kehilangan waktu membersamai anak2 dimasa2
pertumbuhan emasnya. Realitas inilah yang menjadikan hampir sebagian besar dari
para ibu hebat itu memutuskan untuk ‘merumahkan diri’ demi membersamai
putra-putrinya.
Aku kemudian mencoba berfikir serius tentang ini.. tentang sebuah kebijakan
yang mampu mengakomodir peran Ibu dan kepentingan public secara bersamaan tapi
seimbang. bagaimana nantinya agar para Ibu hebat itu tetap bisa mengeksplorasi
bakat dan bisa berperan serta dalam proses perbaikan diranah public tanpa
mengabaikan kewajiban dan hak anak2 mereka, minimal hak mendapatkan ASI.
Ketika kuutarakan ide terkait kebijakan tersebut, Beberapa teman menganggap
apa yang aku fikirkan ini terlalu jauh dan ideal..Bisa jadi penilaian tersebut
benar, meskipun Aku secara pribadi melihat sebenarnya ide tersebut bisa
diaplikasikan..yah minimal dimulai dari lingkup kecil sebagai pilot project
semisal lembaga/yayasan keislaman yang tentunya sangat faham mengapa Allah
menganjurkan para Ibu agar baru menyapih anaknya setelah berusia 2 tahun.
Namun, Aku hampir selalu mendengar kalimat bernada pesimis seperti
‘mustahil, sudah jalani saja apa yang ada’.. atau ‘yang mikirin itu
harusnya politisi, bukan guru..kita tugasnya mengajar’.. atau kalimat lain yang
menurutku agak 'unik' dan terdengar lucu..’walah fah, nikah aja belum, sudah
mikir jauh2’ kata mereka. Biasanya akan ku jawab sambil nyengir.. ‘lha..mmg
kenapa mbak? Setidaknya itu akan berguna untuk emak2 yang punya anak saat ini”
bersambung di dalam hati --> ‘bukankah tak perlu harus menjadi Ibu terlebih
dahulu baru bisa berempati Mbak?’
Jujur saja, Aku termasuk perempuan yang bersepakat untuk mendorong peran
kaum hawa diranah public, terutama untuk mereka yang memang memiliki kompetensi
dan visi. Ini sama sekali berbeda dengan kaum feminis, para pengusung ide
kesetaraan dan keadilan gender yang kebablasan itu. Ide ini sama sekali bukan
untuk menyaingi kaum pria, juga jauh dari maksud unjuk diri kaum Hawa. Aku
tidak memungkiri, selain alasan2 objektif, pemikiran ini juga dilandasi oleh
pengalaman beberapa tahun melihat ranah public ‘tanpa sekat’. Sungguh menurutku
masih banyak peran2 publik yang memerlukan tenaga dan pemikiran perempuan,
tidak semata2 hanya kebijakan yang bersentuhan dengan kepentingan perempuan
secara langsung seperti BP3A, tapi lebih besar dari itu. ini kaitanya dengan
kepentingan sebuah generasi..Aku berharap punya waktu lebih panjang untuk
memaparkan ide ini nantinya.
Tapi untuk mengawali, mari sejenak meluangkan waktu untuk bertanya sekaligus
menjawab. Jika Anda adalah orang yang bekerja dilembaga public, anggap yang
paling mudah dianalisa semisal DPR. pernah tidak mencoba menghitung2 dari
sekian banyak perempuan yang ada di lembaga tersebut, berapa orang yang mampu
diharapkan? Berapa orang yang mmg benar2 kompeten dan menguasai materi serta
permasalahan? Berapa persentase kebijakan yang memang benar2 mampu
mengeksplorasi kompetensi dan keseimbangan peran? Jika semua perempuan yang ada
dilembaga terhormat itu benar2 ‘bekerja’ Aku berani bertaruh Pilihan2 dilematis
yang dialami banyak perempuan hebat hari ini mungkin bisa sedikit lebih
diminimalisir.. lebih jauh lagi, Relakah anda jika beberapa tahun yang akan
datang, anak2 anda hidup dalam dunia yang semakin tereduksi nilai2nya hanya
karena beberapa tahun (sebelum dia hidup) Anda membiarkan pos2 strategis itu
ditempati oleh orang2 yang tak mengerti nilai bahkan tak bermoral? Tak bervisi
dan hanya memikirkan diri sendiri? Mari bertanya, Dunia seperti apa yang ingin
Anda siapkan menyambut kedatangan Putra-putri Anda? Seberapa yakin Anda mampu
memberi imunitas internal sehingga nantinya kondisi eksternal sama sekali
tidak berpengaruh pada putra-putri anda? Atau kalaupun Anda memang bisa,
pertanyaannya siapa yang bisa menjamin Anda mempunyai cukup waktu untuk
membersamai putra-putri Anda dalam rentang hidup yg cukup panjang? Itulah yang
kemudian mengantarkanku pada klesimpulan bahwa menyiapkan lingkungan sebagai
sebuah sistem sangatlah penting. Meskipun ini bukan jaminan, tapi setidaknya
kita harus berusaha.
Akhirnya, seperti yang kutulis di comment beberapa postingan teman. Mungkin
terlalu dini bagiku untuk mengatakan ini, tapi setidaknya Hingga saat ini Aku
percaya bahwa perempuan berpeluang untuk mampu menyeimbangkan peran public dan
domestiknya, tanpa ada yang terabaikan. Terlebih jika ini didorong dengan
kebijakan pemerintah yang memfasilitasi perempuan agar tidak selalu
dihadapkan kepada pilihan dilematis antara keluarga, anak dan pekerjaan
(terlepas kesepakatannya dengan suami sebagai imam keluarga)
Aku termasuk orang yang meyakini bahwa all the ribet things about
rumah tangga seperti karier, bisnis, urusan berbenah, pendidikan anak, dan
hubungan yang harmonis dengan suami semuanya penting, ketiadaan yg satu akan
mempengaruhi kesempurnaan sesuatu yang lainnya. Tentu saja Aku tak pernah
bercita2 seperti Erin Gruwell dalam film ‘the freedom writers’, seorang guru
yang sukses mendidik murid2nya tapi harus dihadapkan pada pilihan bercerai
dengan suaminya. Memang, pada akhirnya semua ini tidak akan mudah. Tapi
bukankah ada sosok2 seperti Yoyoh Yusroh yang telah terbukti berhasil di ranah
domestic dan publiknya?
Melihat fenomena hari ini, banyak perempuan yang kesannya mau tidak mau
dipaksa 'terjebak' pada realitas..Aku teringat pesan seorang teman,
katanya 'banyak diantara kita yang tereduksi potensi, relasi dan narasinya
ketika berhadapan dengan realita dan tikungan2 kehidupan. banyak yang akhirnya
banting stir untuk urusan pribadi dan narasinya menyusut hanya menjadi narasi
rumah tangga saja".. setelah menikah, banyaknya urusan RT terkadang
membuat perempuan terkesan jauh dari partisipasi publik, sementara hari ini
menurutku kondisi negara kita masih memerlukan partisipasi perempuan diranah
publik..ada diantara perempuan yang harus jadi dokter, hakim, politisi,
akademisi serta mengisi elemen2 birokrasi..
Ini sama sekali tidak bermaksud mengecilkan peran Ibu rumah tangga. Menjadi
Ibu adalah tugas tersulit sekaligus termulia mengingat semua profesi harusnya bisa
dikuasai seorang ibu, dia harus bisa menjadi hakim yang bijak, dokter bagi
keluarga, koki, guru, manajer keuangan, assisten pribadi suaminya, bahkan
sesekali jd tukang baikin genteng..Tapi sekali lagi kondisi negara kita juga
membutuhkan perempuan untuk menjadi volunteer dalam partisipasi publik, bukan
semata-mata karena income yang akan di dapatkan, tapi lebih kepada
peran dan proses perbaikan yang bisa disumbangkan. Apalagi perempuan2 yang
sebenarnya punya kemampuan dan kapasitas mencapai ruang public leader.
Selain itu, menurutku kemampuan seorang Ibu yang bekerja/ bersinggungan
dengan dunia publik tentu berpengaruh pada caranya membesarkan putra/i-nya.. at
least, dia telah merasakan bagaimana realitas zamannya yang mungkin akan
kembali dilalui putra/i-nya, kemana zaman akan bergerak, peradaban seperti apa
yang mungkin terbentuk..semoga dengan itu ia mampu mempersiapkan putra/i-nya
menjadi 'minimal' salah seorang yg turut berkontribusi memperbaiki
lingkungannya, memperbaiki dunianya.. minimal dengan itu, semoga ia tidak
kembali menyumbang kerusakan dengan meninggalkan generasi yang lemah
dibelakangnya..
Oya, beberapa waktu lalu Aku mendengar cerita tentang anak perempuan mantan
wakil PM Malaysia Anwar Ibrahim yg dituduh melakukan pelecehan seksual. Ia
dijatuhi hukuman tanpa melalui proses hukum semestinya..proses hukum yg dilalui
Anwar Ibrahim menjadikan anak perempuannya Nur Azizah memutuskan menjadi
politisi setelahnya..dengan kemampuannya ia mampu mencapai ruang publik dengan
level kebijakan nasional hingga internasional.. yang Aku kagumnya, dalam
berbagai kesempatan ketika terekam kamera tak jarang Nur Azizah ini membawa
anak kecil dalam gendongannya.. ia hampir selalu menggunakan kesempatan untuk
membawa buah hatinya jika ada acara yang memperbolehkan u/ itu. ketika
dikonfirmasi dia mengatakan "Saya ingin mensosialisasikan kepada publik,
bahwa perempuan pun bisa berpartisipasi diranah publik tanpa mengenyampingkan
keluarganya, peran domestiknya.. selain itu saya ingin anak2 dan keluarga saya
mengerti, mereka dan apapun yang saya jalani tidak dapat saya jadikan pilihan.
Saya juga ingin menegaskan kepada mereka bahwa mereka sangatlah penting dan
berarti bagi saya!"
Bagimanapun juga, saat ini kita sedang belajar.. yang namanya belajar
tentunya perlu proses, mungkin tidak langsung berhasil. Do’aku, semoga ketika
Allah berkenan memberikan amanah itu, Allah juga memberi kita kekuatan untuk
bisa melaluinya dengan baik. Aamiin :-)
Urgent : hanya sekedar sharing..sekali lagi apa yang saya tulis hanya
pendapat, bisa benar dan tentu saja bisa salah..silahkan masukannya jika ada, semoga
kita bisa sama2 belajar.. Terimakasih//Naz


0 komentar:
Posting Komentar